Silaturahmi R-ZIS UGM ke Tunanetra Penerima Santunan

Ahad, 5 April 2015.

Menyusuri tanah berbalut aspal hitam di sepanjang jalan magelang, siang itu cukup terik memang. Kuda besi yang saya tunggangi menembus teriknya panas dan hembusan angin yang tak seberapa, membuatku tak begitu menikmati perjalanan ini. Hanya dan hanya jika, ini hanya sekedar perjalanan biasa. Tapi siang itu, ini adalah perjalanan tafakur alam.

Sampailah di Muntilan, di Karasan Barepan lebih tepatnya. Masuk pedesaan dan tibalah di sebuah rumah mungil yang menyediakan jasa tukang pijat. Inilah rumahnya Bp Jaswadi dan Ibu Ibu Pargiyem. Sepasang tunanetra yang menjalani hidupnya hanya dengan dua warna, hitam putih. Sejam perjalanan membuat saya haus dan lelah serta sedikit lapar, dengan sangat cair dan akrab layaknya keluarga sendiri, semuanya sudah tersaji. Buah, Teh, makan siang, dan keramahan. Tidak ada ekspresi kesusahan sedikitpun di keluarga ini.

Setelah puas bercengkerama, perjalanan saya lanjutkan ke Srimulyo Piyungan, menemui pasutri tunanetra (Bp Suparno dan Ibu Suhartini). Lebih sulit dari yang saya kira, rumahnya tersembunyi di sebalik pedesaan dan melewati perkebunan tebu. Alhamdulillah, ketemu. di Rumah ada Ibu Suhartini beserta anak perempuan nya yang cantik dan beranjak dewasa, kelas tiga sma. Sedang bapaknya, ada di jakarta, mencari nafkah dengan membuka jasa pijat. Setelah saling bercerita panjang lebra, saya sudahi urusan ini utnuk melanjutkan perjalanan.

1

Tepat adzan ashar, saya tiba di rumahnya Bp Suparjo dan Ibu Suratmi di Sendangtirto Berbah. Setelah menunaikan sholat ashar, saya sowan ke rumah beliau. Serupa dengan dua keluarga sebelumnya. Ini pasutri tunaetra, dan tidak nampak raut kesusahan di wajah mereka. Mereka menceritakan banyak hal sembari sesekali tertawa dan mengajak bercanda. Saya tenggelam dalam asam garam kehidupan mereka.

2

Tujuan silaturahim kali ini adalah untuk menyambung persaudaraan dari Kantor Rumah Zis Ugm dengan mustahik kami terutama para tunanetra, sembari menyalurkan santunan rutin bulanan yang biasanya mereka ambil ke kantor kami. Sepanjang perjalanan pulang, saya membayangkan banyak hal. bagaimana mereka melewati hidup, karena rata rata mereka buta sejak umur di bawah lima tahun. Bagaimana mereka melakukan perjalanan menjalin komunikasi dengan pasangan, merawat anak, memasak, menghafalkan setiap sudut rumah agar tidak terbentur benda keras saat bergerak, bagimana saat hujan turun deras saat lagi di jalan, dan lain sebagainya. Tidak akan pernah sampai pada logika ini bagaimana mereka menemukan begitu banyak kebahagiaan kemudian mensyukurinya hingga bisa bertahan sejauh ini. Ya Rabbi, ampuni kami.

3

Saat di jlan, saya kehujanan dan kepanasan. Saya sesekali mengeluh dan merasa tidak nyaman. Sedangkan dengan mudahnya saya bisa berteduh dan mencari tempat singgah. Sedang mereka? Inilah tafakur alam atas ayat kauniyahNya yang harus lebih banyak kita sukuri sebagai manusia yang masih diberikan kenikmatan dalam mengenali semua warna. Mata kita normal. Namun bagaimana dengan hati kita?

Saya pribadi, mendoakan agar keluarga mereka diberikan kelapangan urusan oleh Allah swt, dan semoga berkahnya rejeki mengalir kepada para muzaki yang telah mempercayakan ziswaf nya kepada kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.