Silaturahmi R-ZIS UGM ke Tunanetra Penerima Santunan (Bagian Dua)

Dalam perjalanan tafakur alam, Sabtu, 11 April 2015
Kembali, kami melakukan perjalanan beriring – iring. Berebut hikmah dan pengajaran dari setiap ayat ayat kauniyahNya yang betebaran. Karena bukankah, sejatinya hikmah itu adalah harta karun bagi seorang mukmin. Barangsiapa yang pertamakali menemukannya, ialah pemiliknya. Begitupula dengan siang itu.Kami, kali ini silaturahim ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bagian Tenggara. Tepatnya ke Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul. Tak begitu sulit bagi kami menemukan rumah tujuan, selain karena dekat dengan lokasi pariwisata alam; Air Terjun Sri Gethuk, lokasinya tidak terlalu masuk ke perkampungan. masih disekitaran jalan raya. Jauh memang, meskipun ditembuh dnegan kendaran kuda besi.
Pertama kali, kami silaturahim ke rumah Bp Muhadi, -cerita tentang beliu sudah pernah kami bahas- Keluarga kecil yang terasa lapang dan luas bersebab cara mereka menghadapi kehidupan. Pasutri tunanetra ini, hidup dari penghasilan seadanya yang tidak menentu, pekerjaan utama sebagai paraji (tukang pijat) yang lebih seringnya sepi pelanggan. Tanggungan hidup, merawat ibu yang lumpuh semenjak tahun 2009, kemudian merawat kakak perempuannya yang kini juga tidak bisa melihat dikarenakan operasi katarak yang kemudian kedua bola matanya diangkat. Siang itu, tidak nampak kesedihan apalagi cerita beratnya menjalani kehidupan. Justru banyak cerita bahagia yang kami dapatkan dari keluarga ini. Seperti siang itu, kembali Bp Muhadi memperdengarkan hafalannya; QS Ali Imran, Al Isra, dan Yasin. Sekilas kami menyimpulkan, ini keluarga yang taat pada agamanya. Bahkan, pernah dulu b=suatu ketika, Bp Muhadi ditawarin pindah agama dengan sejumlah uang, tapi beliu memilih teguh apada Islam. Semoga beliau dikarunia keturunan, ini sudah tahun kesebelas pernikahannya dengan Ibu Wagiyah.

a

Berlanjut, ke rumahnya Bp Mujiyono. Bersebelahan desa. Sama dengan sebelumnya, ini keluarga pasutri tunanetra. Alhamdulillah, anak pertamanya sudah lahir, perempuan normal. Meskipun Bp Muhadi membawa gen kebutaan dari keluargnya, semoga tidak lagi menurun kepada anak turunnya. Asharpun tiba, kami sholat berjamaah, dengan beliau sebagai imamnya. Khusuk, di sujud terakhir saya mentadaburi nikmat yang Allah beri, betapa masih jauh dari rasa syukur kepada Ilahi Rabbi. Betapa, diri ini masih banyak bermaksiyat dengan mata ini. Astaghfirullah.

b

Tujuan perjalanan ini, kali pertama adalah silaturahim. Kali kedua, kami menyalurkan santunan bulanan tunanetra yang biasanya mereka ambil ke kantor kami setiap awal bulannya. Beliau berdua, adalah salah satu guru kami dalam menghadapi sedemikian banyaknya dinamika kehidupan. Bukan pada berat ringannya masalah, bukan tentang berapa banyak sedikitnya rejeki, bukan pada cacat dan sempurnanya anggota badan yang dimiliki. Tapi lebih kepada cara mensikapinya, kepada cara kita memakai kacamat dalam menghadapinya.
Semoga berkah rejeki mengalir kepada para muzaki. Dan kita semua, bisa mengambil hikmah dan pengajaran dari setiap peristiwa yang Allah perlihatkan kepada kita, selagi masih di dunia ini.
Fabi-Ayyi Ala-I Rabbikuma Tukazziban.
“Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?”