Hidup dalam kebersyukuran ala Bapak Ponidi sekeluarga

Bapak dan Ibu Ponidi adalah pasangan suami istri tunanetra yang berprofesi sebagai tukang pijat. Mereka hidup berdua di Jl. Godean Km. 7, Sleman, Yogyakarta. Bapak Ponidi dan istri mengalami kebutaan sejak masih balita sekitar usia 7 bulan. Saat ini beliau dikaruniai 2 orang anak dan  4 orang cucu. Meskipun hidup sebagai tunanetra, keluarga beliau hidup rukun, tentram dan damai. Ketika kami mewawancarai beliau, salah satu kunci rahasianya adalah selalu merasa cukup akan nikmat yang diberikan Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari beliau mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup bapak Ponidi dan istri hanya mengandalkan penghasilan dari profesi sebagai tukang pijat. Meskipun anak-anak beliau terkadang juga mengirim beberapa bantuan namun bapak dan ibu tidak terlalu mengandalkan serta mengharapkannya.

“Saya tidak mengharapkan bantuan dari anak-anak mas, jika saya masih sehat bisa bekerja maka saya berusaha mencari nafkah sendiri saja dengan ibu biar tidak bergantung sama orang lain”. Begitulah curahan hati bapak Ponidi kepada kami.

Secara finansial kehidupan bapak sekeluarga sangat sederhana, dalam profesi sebagai tukang pijat bapak Ponidi tidak mematok tarif tertentu sehingga pelanggan bisa memberi uang seikhlasnya sehingga penghasilan pun selalu  tidak menentu. Meskipun demikian bapak Ponidi dan istri selalu tabah, merasa ikhlas,  dan setiap saat berusaha mencari pekerjaan sambilan selain sebagai tukang pijat untuk menambah penghasilan.

Semoga Allah SWT senantiasa memberi kemudahan dan kesehatan untuk bapak Ponidi sekeluarga. Amin ya Robb al-Amiin.

RumahZISUGM RumahZISUGM RumahZISUGM RumahZISUGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.