Indonesia Berdaya ditanganmu, Wahai Pemuda (Mahasiswa) !

Prioritaskan apa yang kau cintai. Indonesia dulu, Indonesia lagi, dan Indonesia terus. Ibu pertiwi aku mencintaimu…


 Merdekaaa!!!

Indonesiaku yang kucinta sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, dan artinya menjelang 68 tahun kemerdekaan. Dimana – mana orang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia belum merdeka, tapi saya mengatakan sebaliknya. Indonesia tetap Merdeka. SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA! Mereka yang mengatakan bahwa Indonesia masih terjajah adalah sebenarnya jiwa mereka sendiri yang terjajah. Satu lagi yang saya sayangkan adalah kebanyakan para pengumpat tersebut berasal dari kalangan mahasiswa. Allahu ya kharim, apa yang mereka ketahui tentang Indonesia.

Saya sadari dan menyaksikan sendiri betapa rakyat di negeri ini tercabik – cabik oleh keadaan yang menjadikan mereka harus melupakan segala harap nya kepada wakil rakyat di senayan maupun di daerahnya masing – masing. Yang lebih mengherankan lagi adalah setiap adanya masa pemilihan wakil rakyat, rakyatku yang kucintai ini pun mengulangi kesalahan yang selalu mereka lakukan secara periodik lima tahunan. Dengan sejumlah uang yang ditawarkan, suara mereka di beli dalam pesta rakyat tersebut. Dan mereka selalu saja menuntut dan mengumpat kepada wakil rakyat yang mereka pilih dengan imbalan sejumlah uang tersebut. Mengherankan bukan ? lantas, adakah yang salah dengan negeri ku Indonesia? TIDAK, negeriku tetap Merdeka!

Beralih pada dunia intelektual bernama bangku kuliah nya mahasiswa. Setiap hari di hadapkan pada papan tulis yang harus berulang kali di hapus karena dosen pengampu mata kuliah nya menggunakan system pengajaran konvensional, sehingga mahasiswa lebih mudah jenuh. Sesekali kadang ketemu dengan dosen yang lebih melek IT, semua materi di tampilkan dengan mesin penampil menyerupai lacar tancep, yang dengannya mahasiswa akan memilih asyiek dengan dunianya sendiri kemudian di akhir kuliah tinggal nyolokin flasdisk untuk minta materi. Di lain kesempatan ketemu dengan dosen yang bergelar professor, biasanya hanya akan memberikan sebuah wacana permasalahan, kemudian meminta mahasiswa untuk mencari solusi nya. Kapan mahasiswa di ajak berfikir tentang kondisi Indonesia dan cara memecahkannya? Hanya anak – anak sosial yang terjun langsung memikirkan hal ini, ya meskipun masih sebatas wacana dan diskusi. Adakah yang salah dengan system pembelajaran tersebut? Ataukah mahasiswa sendiri yang sebenarnya belum merdeka?

Saya meyakini bahwa Negeri ku Indonesia berdeka dan berdaya, hanya saja kita sendiri yang seringkali melemahkan kemerdekaan itu, sehingga seolah menjdai lemah tiada daya. Arus globalisasi serta kemajuan di berbagai bidang bisa segera di wujudkan jika rakyat nya terutama mahasiswa yang menjadi garda terdepan nya mempunyai jiwa yang merdeka. Di mulai dari caranya berpakaian ketika kuliah, dari caranya berjalan ketika melewati satpam dan civitas akademika non-pengajar lainnya, dari caranya makan dan apa yang dilakukan saat makan serta setelahnya, dari caranya melewati akhir pecan dan lain sebagainya. Belum lagi tentang bagimana ia mengikuti proses pembelajaran sampai datangnya ujian akhir semester.

Miris hati ini menyaksikan betapa mereka (mahasiswa) berhutang budi terhadap Negara ini beserta segala asetnya (rakyat, hasil bumi). Jiwa mereka belum merdeka dan mereka mengumpat bahwa Negeri Indonesia masih di jajah. Tidak sadarkah mereka bahwa sendiri yang sedang terjajah? Mengaku intelek namun namun jiwa kosong dari nilai – nilai pengabdian. Lantas dimana tridharma pendidikan? Waktu mereka disita oleh tuntutan akademik dan permintaan orang tua untuk segera lulus. Eh kemudian mereka didukung oleh sistem kurikulum yang begitu dipadatkan. Dan kebanggan seorang rektor akan membahana ketika ada sekian ratus mahasiswa yang lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude. Hal ini tidak salah, tapi saya sedang menantikan masanya parameter cumlaude adalah dari kontribusi nya terhadap masyarakat dan dalam mewujudkan Indonesia yang mempunyai daya dan kekuatan untuk memerdekakan rakyatnya dalam segala sudut pandang.

Mari coba kita hubungkan paradigma atas kondisi Indonesia yang terpuruk dalam ketidak berdayaan ini dengan keberadaan mahasiwa. Mahasiswa dengan segala jenjang kedewasaannya membawa harapan yang besar terhadap perbaikan bangsa Indonesia. Akan tetapi, dari sekian banyak harapan yang di sematkan oleh rakyat terhadapa keberadaan mereka, seringkali mengecewakan. Lantas masihkah kita berhak mengatakan bahwa indonesai masih terjajah? Karena sebenarnya, jiwa mahasiswa – mahasiswa itulah yang masih terjajah.

Menjadi pemimpin, adalah bagaimana kemudian menjadikan orientasi kepentingan orang banyak itu menjadi orintasi pribadi kita. Dengan demikian kita akan mulai memikirkan bahwa apa yang selama ini kita lakukan, apa yang selama ini kita butuhkan, atau bahkan sekdar apa yang kita inginkan kesemuanya itu hendaklah kita arahkan kepada kemaslahatan dan kepentingan orang banyak. Maka dengan demikian, kita mampu menjadi pemimpin dan siap memimpin rakyat Indonesia untuk bersegera menyadari bahwa bangsanya memang sudah merdeka dalam arti yang sebenar – benarnya.

Indonesia ideal menjadi sebuah kenyataan ketika kiprah mahasiswa di wujudkan sepenuhnya menuju kedekatan terhadap masyarakat. Boleh belajar ke luar negeri, boleh keliling dunia, boleh mempelajari budaya negara lain, dan lain sebagainya. Tapi mari ingat peran yang seharusnya kita lakukan. Allah menurunkan kita dan menetapkan kita untuk dilahirkan di bumi pertiwi ini bukan karena tidak ada alas an. Kita disiapkan untuk perkara yang besar. Yaitu membesarkan Indonesia dan mewujudkan Indonesia berdaya. Dalam segala hal. Berdaya untuk mngoptimalkan segala potensi yang dimiliki, berdaya untuk menghargai setiap karya putar bangsanya, dan berdaya untuk mempertahankan jati dirinya. Semua terasa lebih kuat dan ringan jika dikerjakan oleh pemuda. Sejak dini, mulai hari ini. Mulai dari pemuda. Mahasiswa!

Ale Ikhwan Jumali

penulis adalah mahasiswa semester delapan

fakultas teknologi pertanian

universitas gadjah mada

saat ini aktif sebagai pendambing di desa binaan dan aktifitas sosial