Kisah Penerima Tunjangan Hidup (Beasiswa) R-ZIS : Ahmad Solikin

 

Saya berjuang untuk bisa belajar di Universitas Gadjah Mada (UGM)

Saya adalah salah satu mahasiswa UGM yang sedang berjuang untuk bisa terus belajar dan mengapai cita-cita menjadi sarjana lulusan UGM. Latar belakang saya berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Saya anak tunggal dari ayah dan ibu. Sejak kecil, ayah tidak dapat bekerja karena sakit. Jadi hanya ibu saja yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi buruh tani di musim tanam. Sawah warisan dari nenek seluas 0,25 ha saja sehingga sangat kurang untuk mencukupi berbagai macam kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan saya sekolah.

 Ahmad Solikin

sumber : http://fl2mi.blogspot.com

Setelah lulus Sekolah dasar, saya bertekad untuk melanjutkan sekolah SMP. Tidak tanggung-tanggung sekolah yang saya akan tuju adalah sekolah tervavorit di kabupaten. Dan terkenal biaya pendidikannya mahal. Sudah barang tentu ibu saya melarang saya untuk melanjutkan sekolah lagi. Karena tidak memiliki biaya yang cukup untuk membayar SPP, dll. Tapi saya memiliki tekad yang kuat untuk tetap melanjutkan sekolah karena saya yakin suatu saat pasti bisa. Tetap saja ibu melarang untuk tidak mendaftar sekolah. Saya bilang ke ibu saya kalau saya akan hanya sekolah sampai SMP saja. Akhirnya karena saya terus ngotot untuk sekolah, ibu membolehkan untuk sekolah lagi dangan biaya seadanya.

 

 

Setelah masuk SMP, alhamdulillah saya dapat beasiswa tapi tidak tahu tiba-tiba berhenti ditengah jalan. Jadinya biaya pendidikan juga terasa sulit bagi kami. Sampai saya mau lulus, siswa di suruh untuk mengambil surat keterangan hasil ujian nasional dengan biaya 50.000 rupiah. Sampai sekarang surat itu belum saya ambil karena dulu tidak ada uang. Karena hasil ujian juga sudah ada di ijazah SMP.

Selepas SMP, saya bertekad pula untuk melanjutkan SMA. Lagi-lagi ibu melarang saya, tapi saya buat keputusan dan disetujui ibu, bahwa saya tetap melanjutkan SMA, kalaupun ditengah jalan tidak bisa membayar, berhenti saja tidak masalah.  Yang penting masuk SMA dulu, akhirnya setelah masuk SMA saya dapat bantuan beasiswa walaupun besarnya lebih kecil dari SPP SMA. Tapi cukup membantu meringankan beban ibu. Dari SMP-SMA saya sudah menghabiskan kurang lebih 4 sapi untuk biaya pendidikan saya. Beasiswa saja tidak cukup karena besarannya sangat kecil.

Menjelang lulus SMA saya mencoba untuk mendaftar beasiswa etos untuk masuk ke ugm. Akhirnya saya tidak dapat beasiswa tersebut tapi saya diterima di ugm. Saya tetap berkeyakinan, kalau pasti ada jalan. Kalaupun tidak bisa membayar uang kuliah keputusan yang saya sepakati dengan ibu saya adalah berhenti di tengah jalan tidak masalah, yang penting berusaha dulu. Tapi alhamdulillah, saya dapat beasiswa baznas berupa biaya SPP-BOP sampai semester 8. tapi lagi-lagi saya harus pontang panting untuk mencari biaya uang saku untuk biaya kos dan hidup selama pendidikan di ugm.

Terpaksa saya berhutang dulu sama teman-teman saya untuk bisa makan. Dan numpang di kos-kosan teman untuk tidur. Sebelumnya saya tidur di masjid dan tinggal di masjid pula karena tidak ada biaya untuk kos. Tapi karena kesibukan aktivitas kampus, akhirnya saya keluar dan mencoba untuk kos sendiri. Sampai sekarang kos baru saya bayar sepertiga harga, dan si sanya bulan juni. Belum tahu juga mau dibayar pakai apa, tapi saya berkeyakinan bisa mengatasi semuanya. Hanya modal keyakinan saja, semuanya bisa jalan. Itulah saya. Sampai saya mengadu ke bu Ida ditmawa untuk mencari solusi permasalahan saya ini. Akhirnya disuruh mengajukan beasiswa ke RZIS UGM. Dan alhamdulillah saya dapat beasiswa ini.

Motivasi saya untuk belajar di UGM adalah untuk menuntut ilmu dan mengembangkan potensi diri dengan lebih baik dan maksimal. Pendidikan adalah salah satu instrumen untuk membangun kemajuan bangsa dengan meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya, dan merupakan tempat untuk membentuk karakter anak didik agar memiliki karakter unggul & memiliki pola pikir yang benar. Bagaimanapun juga antara orang yang mengenyam bangku pendidikan tinggi dengan yang tidak, sudah barang tentu memiliki pola pikir yang jauh berbeda. Selain itu, kampus merupakan tempat yang bisa dikatakan sebgai kawah candradimuka untuk menggodok manusia-manusia unggul dan profesional di bidangnya masing-masing dengan belajar, karena didalamnya (kampus) merupakan lautan ilmu pengetahuan.

Berangkat dari itulah saya bertekad untuk belajar menuntut ilmu di UGM. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tidak semua orang mendapatkannya ini dengan belajar sungguh-sungguh. Semoga bisa membangun bangsa indonesia dengan lebih baik. Harapan saya dengan adanya beasiswa RZIS UGM adalah dapat menunjang study saya dengan baik dan dapat meringankan beban biaya hidup, baik itu kos maupun yang lain. Demikia terima kasih. (ASN)