Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Zulhijjah dan segera akan menyambut Hari Raya Iduladha. Iduladha merupakan sebuah pengingat untuk lebih taat kepada Allah SWT dan lebih peduli terhadap sesama. Peristiwa ini berakar dari kejadian yang terdapat dalam Al Quran surat Al-Ma’idah ayat ke 27 dan As-Saffat ayat ke 102.
وَٱتْ ل عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَ ‘قِ إِذْ قَرَّبَا ق رْبَانًۭ˝ا فَت ق بِ’لَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ ي تَقَبَّلْ مِنَ ٱلْـَٔاخَرِ قَالَ لَقََْت لَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّ ل ٱلَّلّ مِنَ ٱلْ متَّقِينَ ٢٧
Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Ǫabil) tidak diterima. Dia (Ǫabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” Al-Ma’idah (5:27)
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَه ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰـب نَىَّ إِنِ’ ˜ى أَرَٰى فِى ٱلْمَنَامِ أَنِ’ ˜ى أَذْبَ حكَ فَٱن ظرْ مَاذَا تَرَٰى “ۖ قَالَ يَٰـ˜أَبَتِ ٱفْعَلْ مَا ت ؤْمَ ر ۖ سَتَجِ دنِ ˜ى إِن شَا˜ءَ ٱلَّلّ مِنَ ٱلصَّٰـبِرِينَ ١٠٢
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyā Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” As-Saffat (37:102)
Kedua penggalan surat di atas mengajarkan bahwa sesungguhnya ibadah kurban tidak sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan puncak ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah SWT. Melalui kisah Habil dan Qabil, umat Muslim diingatkan bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa. Sementara itu, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menunjukkan arti ketaatan, kesabaran, serta pengorbanan yang begitu besar dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Selain mengajarkan ketakwaan dan keikhlasan, bulan zulhijjah mengandung banyak amalan yang mampu mendekatkan kita ke surga-Nya. Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan amalan pada sepuluh hari pertama Zulhijah melalui hadis yang masyhur berikut:
اليَََّامِ هَذِهِ مِنْ اَّللَِ إِلَى أَحَ ب فِيهَا الصَّالِ ح الْعَمَ ل أَيَّا „م مِنْ مَا
“Tidak ada hari-hari yang amal soleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah selain daripada hari-hari ini (sepuluh hari awal bulan Zulhijjah).” (Riwayat al-Bukhari)
Berikut amalan yang dicintai Allah SWT pada bulan Zulhijjah:
- Memperbanyakkan Zikir (Subhanallah, Alhamdulillah, La ilahaillallah, Allahu Akbar)
- Memperbanyakkan Istighfar dan Doa
- Membaca Al-Quran
- Tidak bercukur dan memotong kuku
- Puasa Sunah (1-7 Zulhijjah)
- Puasa Tarwiyah (8 Zulhijjah)
- Puasa Arafah (9 Zulhijjah)
- Menunaikan Ibadah Haji atau Umrah Bagi yang Mampu
- Solat Sunah (Tahajjud, Dhuha, Witir, Rawatib)
- Bersedekah dan Membantu Sesama Muslim
- Berbakti kepada Orang Tua
- Menjaga Lisan s Akhlak
- Memperbanyak Takbir Menjelang Iduladha
- Berkorban bagi yang Mampu (10-13 Zulhijjah)
Mari jadikan bulan Zulhijjah tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan semakin mendekatkan hati kepada Allah SWT melalui amalan-amalan yang dicintai-Nya. Setiap zikir yang dilantunkan, doa yang dipanjatkan, sedekah yang diberikan, hingga pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal berharga di sisi Allah SWT. Jangan sampai hari-hari mulia ini berlalu begitu saja tanpa diisi dengan kebaikan. Semoga kita semua termasuk hamba yang mampu memanfaatkan keberkahan Zulhijjah untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih rida-Nya.
Penulis: Adrian Fernanda Indar Saputra
Editor: Rendy Syafaat Al Habsi
Konten Grafis: Bintang Agung Saputro
