Sabtu (13/12), Rumah ZIS UGM menyelenggarakan Seminar dan Workshop bertajuk “10 Tahun Unit Pengumpul Zakat di Indonesia: Pengalaman dan Praktik Terbaik Pengelolaan Zakat melalui Universitas dan Masjid Kampus”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan berbagi praktik terbaik pengelolaan zakat di lingkungan perguruan tinggi, khususnya peran strategis Unit Pengumpul Zakat (UPZ) UGM selama satu dekade terakhir.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua UPZ UGM, Drs. Gugup Kismono, M.B.A., Ph.D., yang mengawali dengan ungkapan syukur serta apresiasi atas kesempatan bersilaturahmi dan berdiskusi bersama para pemangku kepentingan zakat dari berbagai daerah. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para tokoh yang konsisten berjuang di jalur pengelolaan zakat, di antaranya Prof. Dr. Noor Achmad, Ketua BAZNAS RI, jajaran BAZNAS Provinsi DIY, serta para peserta seminar.
Sejarah dan Perkembangan UPZ UGM
UPZ UGM dibentuk pada tahun 2016 atas inisiasi Prof. Bambang Sudibyo sebagai rintisan unit pengumpul zakat di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Sejak awal, UPZ UGM mendapatkan dukungan kuat dari BAZNAS RI, BAZNAS DIY, serta pimpinan universitas.
Drs. Gugup Kismono sendiri telah berkecimpung di bidang zakat, infak, dan sedekah sejak 2008, termasuk pengalaman profesional di kantor pusat Rumah Zakat pada periode 2012–2022. Hingga kini, ia bersama tim pengelola terus menegaskan pentingnya passion dan dedikasi, meskipun pengelolaan UPZ banyak dijalankan secara sukarela (volunteer).
Fungsi dan Peran Strategis UPZ UGM
UPZ UGM menjalankan fungsi utama sebagai perpanjangan tangan BAZNAS RI dalam mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Selain fungsi intermediari ekonomi—mengalirkan dana dari muzaki kepada mustahik—UPZ UGM juga memiliki peran sosial dan kemasyarakatan yang signifikan.
Salah satu peran krusial UPZ UGM adalah sebagai “penyelamat” (rescuer) bagi mahasiswa yang menghadapi risiko putus kuliah akibat kendala finansial. UPZ UGM juga terlibat dalam pendampingan mahasiswa dengan kondisi mental kritis, termasuk yang dipicu oleh tekanan utang dan pinjaman online. Meski porsinya tidak besar secara kuantitas, dampak kemanusiaan dari penanganan kasus-kasus ini sangat berarti bagi keberlanjutan studi dan kesejahteraan mahasiswa.
Dampak Sosial dan Kepercayaan Muzaki
Dalam sambutannya, Drs. Gugup menekankan bahwa keberadaan UPZ UGM telah memberikan dampak sosial yang nyata, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat sekitar kampus. Beberapa peristiwa tragis di lingkungan pendidikan menjadi pengingat pentingnya kehadiran UPZ sebagai sistem pendukung yang responsif dan peduli.
Kepercayaan muzaki terus meningkat, tidak hanya dari wilayah DIY tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, pengumpulan dana UPZ UGM mencapai sekitar Rp3,6 miliar per tahun, meskipun potensi yang belum tergarap—terutama dari jaringan alumni Kagama di dalam dan luar negeri—masih sangat besar.
Tata Kelola, Transparansi, dan Tantangan Ke Depan
Keunggulan UPZ UGM terletak pada tata kelola yang profesional dan transparan. Biaya operasional dijaga efisien, sekitar 8% dari total dana terhimpun, dengan dukungan tenaga sukarelawan yang bekerja secara profesional. Pengelolaan keuangan diaudit oleh auditor independen, dan laporan keuangan disampaikan secara rutin maupun insidentil untuk menjaga akuntabilitas.
Namun demikian, UPZ UGM masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan penggalangan dana internal kampus yang bersifat sukarela serta dinamika pergantian pimpinan universitas yang berpotensi memengaruhi dukungan kelembagaan. Regenerasi pengelola dengan dedikasi tinggi juga menjadi agenda penting demi menjaga keberlanjutan UPZ UGM ke depan.
Menutup sambutannya, Drs. Gugup Kismono menegaskan bahwa tata kelola yang baik, transparansi, dan kepercayaan merupakan fondasi utama pengelolaan zakat yang berkelanjutan. Ia berharap seminar dan diskusi ini dapat berjalan lancar serta membawa manfaat luas bagi pengembangan pengelolaan zakat di lingkungan perguruan tinggi, seraya memohon ridha Allah SWT.
Tonton video selengkapnya: https://youtu.be/qBClqHmwnAc
Foto: Allief Sony Ramadhan Aktriadi
Penulis: Deski Jayantoro